Lokakarya Penulisan Puisi Berbasis Tradisi Lisan Sumba Semarakkan Festival Sastra Sumba 2026

Terkini 23 Aug 2026 10:24 • 3 min read • 608 views • By selatannusantara82
Lokakarya Penulisan Puisi Berbasis Tradisi Lisan Sumba Semarakkan Festival Sastra Sumba 2026
SUMBA, 21 Agustus 2026 — Lokakarya Penulisan Puisi Berbasis Tradisi Lisan Sumba yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Sastra Sumba 2026 mendapat...

SUMBA, 21 Agustus 2026 — Lokakarya Penulisan Puisi Berbasis Tradisi Lisan Sumba yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Sastra Sumba 2026 mendapat antusiasme tinggi dari berbagai kalangan masyarakat Sumba. Kegiatan ini juga mendapat perhatian luas di media sosial, termasuk Facebook dan Instagram, serta sejumlah media berita daring milik pemerintah. Lokakarya tersebut menghadirkan dua pemateri yang memiliki latar belakang kuat dalam dunia sastra. Mereka adalah Dr. Bernardus Retang Wohangara, S.S., M.Hum., dosen Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, serta Wayan Jengki Sunarta, penyair Indonesia asal Bali. Dr. Bernardus Retang Wohangara membawakan materi bertajuk “Sastra Lisan Sumba Menuju Kreativitas Sastra Puisi”, sementara Wayan Jengki Sunarta menyampaikan materi “Teknik Menulis Puisi”. Keduanya berkolaborasi secara intensif dalam membimbing peserta, hingga menghasilkan karya bersama berupa buku antologi puisi berjudul PANGGIL AKU SUMBA. Antologi tersebut diharapkan menjadi salah satu jejak kreatif anak-anak daerah Sumba sekaligus dokumentasi penting bagi perkembangan sastra Sumba kontemporer. Dalam pemaparannya, Wayan Jengki Sunarta yang dekat dengan sosok 'Kuda Putih' (Umbu Landu) kala masa hidupnya cukup banyak memberikan pengetahuan praktis mengenai teknik menulis puisi yang baik, sederhana, dan dapat diterapkan oleh peserta. Ia juga banyak mengisahkan sosok maestro sastra asal Sumba, Umbu Landu Paranggi, yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan kesusastraan Indonesia. Seisi ruang Aula Alfa Alfin MAN Waikabubak yang  tadinya ramai seketika menjelma 'hening', Wayan berharap kegiatan semacam ini dapat menjadi ruang tumbuh bagi sastra Sumba sehingga kelak lahir “Umbu Landu-Umbu Landu” baru dari tanah Sumba. Menurutnya, komunitas dan para penggiat sastra, termasuk SSBS, memiliki posisi penting sebagai garda terdepan dalam membangun ekosistem sastra di Sumba dan menjaga agar api sastra Sumba tetap menyala. Ia juga memberikan makna khusus terhadap pelaksanaan kegiatan pada 21 Agustus 2026. Dalam kisah yang disampaikannya, angka 3 memiliki kedekatan khusus dengan Umbu Landu Paranggi. Angka 21, jika dijumlahkan kedua digitnya, menghasilkan angka 3. Momentum tersebut menjadi semakin bermakna karena Agustus merupakan bulan kelahiran sang maestro. “Ini bukan sekadar kegiatan. Ini adalah pemicu, pemantik api yang diharapkan menjadi api sastra abadi di Pulau Sumba,” ujar Wayan dalam pesannya kepada para peserta dan penggiat sastra. Ia juga mengaitkan perjalanan komunitas SSBS dengan amanah dan gagasan Umbu Landu Paranggi untuk mempuisikan Sumba secara utuh. Menurut Wayan, buku antologi PANGGIL AKU SUMBA merupakan simbol semangat generasi muda Sumba untuk terus bergerak dalam dunia sastra. Ia menggambarkannya sebagai “anak panah api yang dilontarkan Dewa Arjuna” untuk membakar semangat kesusastraan generasi Sumba. Dalam kesempatan itu, Wayan juga menitipkan pesan kepada para pendiri dan penggiat SSBS agar menjadi “tukang kebun” dalam semangat yang diwariskan Umbu. Ia merangkumnya dalam dua kata sederhana namun penuh makna: “tanam, taman.” Para anggota komunitas, katanya, adalah para tukang kebun yang menanam dan merawat hingga taman sastra itu menjadi indah. Ketika taman tumbuh subur, lebah dan kupu-kupu akan datang, menghiasi taman sekaligus memanen madu dari bunga-bunga yang tumbuh di dalamnya. Sebagai penutup materinya, Wayan Jengki Sunarta membacakan puisi karya Umbu Landu Paranggi berjudul “Ronggeng Sumba”. Pembacaan puisi tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada sang maestro sastra di tanah kelahirannya sekaligus menghadirkan kembali suara dan spirit Umbu dalam ruang Festival Sastra Sumba 2026. Antusiasme peserta sepanjang kegiatan menunjukkan bahwa tradisi lisan dan sastra Sumba masih memiliki ruang yang kuat untuk berkembang. Kolaborasi antara tradisi, kreativitas generasi muda, komunitas, dan para sastrawan diharapkan mampu melahirkan karya-karya baru yang tidak hanya memperkaya khazanah sastra Indonesia, tetapi juga menjaga identitas budaya Sumba. Melalui lokakarya ini, PANGGIL AKU SUMBA bukan sekadar sebuah buku antologi, melainkan simbol bahwa api sastra Sumba terus diwariskan, dirawat, dan dinyalakan oleh generasi demi generasi.


Komentar (0)

Belum ada komentar.

Recent Articles